Rabu, 12 Mei 2010

kehidupan setelah mati

Kehidupan Setelah Mati
(Tinjauan Filsafat Agama)

1.Pendahuluan
Kehidupan dan kematian adalah sesuatu yang selalu menjadi tanda pertanyaan misteri bagi manusia, berapa lamakah kita hidup di dunia ini dan kemanakah kita setelah mati nanti. Apakah ada kehidupan lain setelah keidupan di dunia ini. Dalam beberapa kepercayaan meyakini bahwa kehidupan di dunia ini adalah alam fana. Agama hindu memiliki kepercayaan bahawa dunia ini Sama sekali tidak nyata secara metafisik demikian menurut ajaran filosofis yang dominan. Menurut agama budha, realitas dunia ini Sama sekali tidak nyata, Semua yang ada tidak permanen dan tidak bersubstansi. Sedangkan menurut agama Islam dan Katolik realitas dunia adalah sesuatu yang nyata. Demikan juga kematian dan kehidupan setelah mati adalah sesuatu yang selalu menjadi pertanyaan manusia. Dalam karya tulis singkat ini, penulis memaparkan kehidupan setelah mati dalam tinjauan ilmu filsafat agama. Karya tulis ini akan memaparkan kehidupan setelah mati menurut filsafat barat (Materialisme), filsafat agama Yahudi, Filusuf Agama Konghuchu dan dari pemikiran filusuf Jawa Syekh Siti Jenar.
2.Pandangan Filsafat Agama Mengenai Kehidupan Setelah Mati
a.Filsafat Barat (Materialisme)
Entah dari mana mula kata “surga” dan “neraka”. Tak dapat pula dijejaki mengapa “surga” mesti berantonimkan “neraka”. Kitab-kitab suci, dengan bahasa asli, tak satupun yang menyebutkan nama “surga” atau “neraka” di dalamnya. Yang ada cuma “jannah” dan “an-nar” (dalam AlQuran), Taman Eden (dalam Injil), dan sejumlah nama asing lainnya. Namun, dari semua itu, satu yang paling jelas bisa dipahami adalah: salah satu dari kedua nama tersebut (surga dan neraka), melambangkan imbalan berupa kenikmatan. Entah itu yang kita sebut sebagai “surga” atau “neraka”.
Dalam filsafat Mateialisme-nya Marx, berdasarkan teori-teori di Das Capital, tampak jelas bahwa surga dan neraka hanya buaian belaka. Ini dihembuskan sebagai alat tipu daya kaum lemah untuk selalu tunduk akan kehadiran entitas “mahabesar” yang direkayasa dan dipanggil “tuhan”. Materialisme, menyanggah adanya Tuhan, apalagi surga dan neraka ciptaan-Nya. Materialisme bukan lagi hanya sekadar teorinya Karl. Ia menjelma secara tidak langsung dan telah merasuki hampir sebagian besar jiwa manusia saat ini yang selalu mengagungkan materi. Jelasnya para kaum matrealis menolak adanya kehidupan setelah mati.

b.Filsafat agama Yahudi.
Disini penulis mengadopsi dari pemikiran Saadiah Ben Joseph Gaon (dikenal Saadiah). Saadiah menulis soal kehidupan setelah mati di dalam tradisi dan agama Yahudi. Ia mengajukan pertanyaan yang sebenarnya juga menjadi pertanyaan banyak orang sekarang ini, mengapa orang-orang baik hidup susah dan menderita, sementara orang-orang jahat hidup berkelimpahan? Bagi Saadiah orang-orang baik mendapatkan pencobaan dari Tuhan. Mereka mengalami proses pemurnian yang berlangsung di dunia. Orang baik mengalami lebih banyak penderitaan di muka bumi ini. Namun Tuhan itu adil, maka setelah mereka meninggal, mereka akan mendapatkan imbalan dari Tuhan dalam bentuk kehidupan abadi yang bahagia. Inilah surga menurut Saadiah. Di dalam surga tubuh dan jiwa akan bersatu kembali. “Bagi Saadiah”, demikian tulis Chon-Sherbok, “karena Tuhan menciptakan dunia dari kekosongan, maka tidak ada kesulitan logis untuk percaya bahwa Tuhan dapat menciptakan tubuh dari orang-orang yang telah meninggal.”
Menurut Saadiah ada dua bentuk berakhirnya peradaban manusia. Yang pertama adalah apa yang disebutnya sebagai periode messianik. Di dalam periode ini, kerajaan Israel akan mencapai puncak kejayaannya. Pada masa ini semua bentuk penindasan, kemiskinan, dan konflik sosial akan menghilang. Surga akan tercipta di dunia. Orang-orang baik akan mendapatkan imbalan yang sesuai. Orang-orang jahat akan mengalami penderitaan di dalam api. Di dalam tulisan-tulisannya, Saadiah adalah pemikir pertama yang secara sistematis memberikan pendasaran rasional bagi ajaran-ajaran yang terdapat di dalam agama maupun tradisi Yahudi, baik tentang manusia, hukum, ataupun kehidupan setelah mati. Akal budi digunakan untuk memahami dan menegaskan ajaran-ajaran di dalam tradisi dan agama Yahudi.

c.Filsafat Agama Konghuchu
Dalam ajaran agama Khonghucu ada penjelasan tentang kehidupan abadi yang sangat menonjol, tetapi kurang diperhatikan dan kurang dibicarakan. Kebanyakan orang hanya menganggap agama Khonghucu hanya mengajarkan keharmonisan dalam masyarakat saja. Orang yang baru mempelajari agama Khonghucu biasanya mencari jawaban atas keselamatan dan keabadian roh, apabila mereka tidak menemukannnya mereka mundur. Para rohaniwan agama Khonghucu sendiri juga kurang memperhatikan masalah ini, dianggapnya tidak penting dengan alasan bahwa agama Khonghucu agama untuk orang hidup bukan untuk orang mati.
Agama Khonghucu mengajarkan bahwa manusia lahir ke dunia karena kehendak Tuhan. Agama Khonghucu mengajarkan bahwa alam semesta ini mempunyai keteraturan yang dikendalikan oleh hukum tertentu. Di bumi, tempat hidup manusia dan makhluk hidup lain juga ada keteraturan yang dikendalikan oleh hukum tertentu. Manusia dalam menjalani kehidupannya juga membuat hukum yang wajib ditaati oleh sesama manusia.
Manusia adalah makhluk yang mempunyai roh yang menyatu dengan badannya. Roh mempunyai komponen dalam raga manusia hidup. Komponen roh itu mengatur bekerjanya organ tubuh agar manusia tetap hidup. Dalam ilmu pengobatan Tionghoa diakui adanya Jing Lu, atau meridian yang melilit seluruh organ tubuh manusia. Jing Lu itu diumapamakan sebagai saluran yang berisi Qi atau enegi vital yang mengatur semua organ tubuh. Jing Lu ini tidak tampak meskipun dilihat dengan mikroskop yang dapat memperbesar jutaan kali. Jing Lu bukan materi, tetapi bagian dari roh. Pada Jing Lu itu terdapat banyak “ lubang” atau “ danau” yang dapat dijangkau dari permukaan kulit. Apabila tubuh orang sakit “lubang” tertentu  dapat ditusuk dengan jarum atau benda lain agar organ yang sakit berfungsi kembali. Jing Lu itu bagian dari roh, dan dapat dilihat dari hubungan antara perasaan dan kesehatan. Orang yang menyimpan rasa takut dalam waktu lama akan menyebabkan salah satu organ penting tidak berfungsi alias sakit. Perasaan atau emosi adalah bagian dari roh, apabila roh tidak sehat menyebabkan komponen roh dalam tubuh itu tidak bekerja dengan baik. Komponen pokok atau pusat-pusat dari Jing Lu itu disebut “Bunga Emas” dalam bahasa Hindu disebut Cakra. Dalam ilmu pengobatan Tionghoa ada namanya sendiri dengan jaringannya yang rumit.
Menurut mereka, kelahiran adalah hasil proses, perkawinan adalah hasil proses, kematian juga hasil proses. Namun harus diingat bahwa proses itu tidak dapat ditelusuri kembali, proses bukan sebab akibat, semua hasil proses terjadi karena bekerjanya berbagai faktor, dan tidak dapat ditentukan faktor mana yang paling dominan. Dalam istilah agama, hasil proses itu disebut nasib. Demikian juga setelah orang meninggalkan dunia ini masih menjalani proses yang panjang, andaikata ke neraka atau ke surga atau ke nirwana tidak bisa menjadi tujuan akhir  karena proses itu tidak punya tujuan akhir, tidak finalistis. Reinkarnasi masih menjadi kemungkinan bagi arwah orang yang telah meninggal karena reinkarnasi masih merupakan lanjutan dari proses. Namun Nabi Khongcu juga tidak pernah membahas masalah reinkarnasi karena reinkarnasi adalah proses di kemudian hari yang belum akan dijalani sekarang. Apakah kehidupan sekarang ini adalah hasil dari reinkarnasi dari kelahiran masa lalu? Orang tidak dapat memberikan jawaban yang pasti karena orang tidak dapat mengingat pengalaman kehidupan masa lalu. Apabila diibaratkan komputer yang lahir kembali berreinkarnasi adalah programnya saja, sedangkan datanya hilang. Andaikata orang dapat mengingat kembali pengalaman kelahiran yang lalu tidak menguntungkan bagi kehidupannya sekarang karena zaman sudah berubah banyak, pengetahuan yang dia miliki pada kehidupan yang lalu sekarang sudah ketinggalan model, bahkan mengganggu proses kehidupan yang sedang dijalani sekarang.

d.Filsafat Kematian Syekh Siti Jenar
Menelusuri gagasan Syekh Siti Jenar, filsuf lokal Nagari Jawi, terasa ada
yang lain, karena gagasannya itu sering kali unik dan terbalik dibandingkan
dengan pandangan pada umumnya. Banyak orang menyebutnya jenius dan
gagasannya melampaui zamannya, tetapi ia juga menuai kritik keras bahkan
dianggap murtad. Terlepas dari sikap pro dan kontra, tidak ada salahnya
menyimak gagasannya tentang kehidupan di dunia ini. Menurut Syekh Siti
Jenar, dunia ini justru bukan alam kehidupan manusia yang sebenarnya. Alam
yang sebenarnya adalah setelah kematian. Siti Jenar berpendapat bahwa hidup
di dunia ini justru kematian, dan baru setelah manusia meninggalkan
jasadnya, maka ia akan memperoleh kehidupan sejati.
Coba kita renungkan ajarannya tentang hidup dan kehidupan secara mistis.
Dia berpendapat bahwa hidup yang selalu sedih, sengsara, kebingungan dan
sejenisnya adalah penjara. Ini bukan hidup di alam kehidupan, melainkan
hidup di alam "kematian". Manusia yang demikian terpuruk dalam kematian
hidup. Manusia yang terdegrasi nilai, curang, culas, korup, dan  sebagainya
adalah manusia yang telah mati menurut Syekh Siti Jenar. Dengan demikian maka di dunia ini telah dihuni manusia "Zombie" (mayat-mayat yang kotor), dengan struktur kehidupan yang mati. Tak sedikit mayat-mayat itu mengejar rezeki yang
haram. Tak sedikit pula mayat tersebut berebut kedudukan.
Dalam konteks kematian, Syekh Siti Jenar mengajarkan tata cara menjemput maut kepada para wali. Kenapa para wali ini diajarkan "Meskipun kamu tahu dan dapat melakukan, tentu kamu akan salah melaksanakan, sebab kamu masih tenggelam dalam kesesatan. Melihat harta duniawi, kamu masih terpikat", demikian ujarnya. Rasanya kritik Jenar terhadap wali, perlu disikapi dengan arif. Mengapa? sebab jika mayat-mayat busuk bergentayangan ke sana-kemari mencari sesuap nasi, sangatlah  tidak pantas jika kita sombong dan arogan. Pelajaran yang
kita terima adalah bahwa kita harus menjauhi semua sifat negatif duniawi.
Sudahkah kita koreksi diri kita?

3.Penutup
Hidup dan mati itu adalah bagaikan koin, dengan dua sisi yang berbeda,walaupun hakikatnya satu. Satu sisi orang menyebutnya hidup di sisi yang lain orang menyebutnya mati. Orang disebut hidup apa bila masih bernafas,dan disebut mati apabila sudah tidak bernafas. Jalan hidup dan kehidupan mahluk Tuhan, akan diawali dari yang ada menjadi tiada (ada juga yang menyebut dari yang tiada menjadi ada, tapi ini tidak dibahas karena dari dulu gak ada habisnya). Setelah kita terlahir, tumbuh, hidup dan berkembang kemudian kita mati. Banyak manusia hidup dan takut mati, seolah kematian adalah akhir segalanya. Akhir kehidupan ini. Apakah benar demikian? Belum ada kabar yang menjelaskan tentang kehidupan setelah kematian, kalaupun ada di sinetron tentang orang yang sudah mati kemudian hidup, mereka menjelaskan tentang peristiwa ghaib, tapi sulit dicerna oleh akal kita nyatakan itu mistis.
Agama Islam meyakini perjalanan hidup di dunia hanyalah sebentar, masih ada alam ke abadian. Tapi akankah kita mencapai alam abadi nan kekal? Dunia ini fana yang akan luluh lantak pada akhir zaman, para rasul menyebutnya kiamat. Pertanyaan terus bergulir, akankah kita mencapai keabadian yang dinanti? Adakah jaminan surga itu abadi? yang abadi itu hanya Tuhan, maka ke Tuhan jua kita kembali. Ina Lillahi Wa Ina Ilaihi Rajiun.













DAFTAR PUSTAKA

Abdala, Absar Ulil. Terorisme dan Soal Ketidakadilan. HumaniusH/Edisi II/November/2009
Hilal, Muhammad. Agama dan Budaya. HumaniusH/Edisi II/November/2009.
http//Filsafat Yahudi Saadiah ben Joseph Gaon « Rumah Filsafat (The House of Philosophy).htm
http://filsafatkita.f2g.net/
http// gentanusantara Filsafat dan Agama Khonghucu bagi Masyarakat Indonesia » Esok Masih Ada Matahari ( Rahasia Kehidupan dan Kematian ).htm
http://groups.yahoo.com/group/filsafat/
http//kehidupan setelah mati siti jenar.htm
http//reinkarnasi atau kehidupan setelah mati_ Forum Sains.htm
Saleh, Fauzan. Teologi Pembaruan. Jakarta: Serambi, 2000.











Kehidupan Setelah Mati
(Tinjauan Filsafat Agama)

Tugas ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Semester Mata kuliah Filsafat Agama
Dosen Pengampu: Drs. Darojat Ariyanto, M.Ag.












Disusun Oleh:

1. Ali Ardianto H. 000 080 006
2. M. Zainal Arifin H. 000 080 007
3. Mahmud Rifai H. 000 080 005







JURUSAN USHULUDDIN
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar